Syafii Antonio, Energi Ekonomi Syariah

Kompas.com - 23/10/2008, 11:25 WIB
Editor

Jeda dari banyak kesibukan, siang itu, Muhammad Syafii Antonio  tiba di Padang, Sumatera Barat, mengunjungi keluarga istrinya, Ir Hj Mirna Rafki MM. Bertemu keluarga sebentar, lantas ia mengunjungi Panti  Asuhan Anak Mentawai yang kondisinya memprihatinkan, dan menyerahkan  bantuan.

Di hadapan sekitar 40 anak-anak Mentawai yang mualaf, orang yang  baru masuk Islam, Syafii, panggilannya, membagi pengalamannya. Ia juga seorang mualaf. Berkaca dari keteladanan Nabi Muhammad SAW, Syafii  menegaskan, jika orang ingin sukses dan bebas dari kemiskinan, kuncinya harus melaksanakan 4B.    "Yaitu, belajar dengan giat dan tekun, beribadah, berbakti kepada  pembina, guru, dan orangtua, serta berdoa. Saya dulu miskin, untuk sekolah tak ada biaya. Dengan prestasi, ada saja yang membiayai kuliah  saya untuk S-1, S-2, sampai S-3, dan visiting research di Oxford University," katanya.

Dengan contoh sederhana dan dipaparkan dengan bahasa gamblang,  anak-anak antusias mendengarkan tausiah Syafii. "Saya ingin sukses dan terkenal seperti Pak Syafii," ujar sejumlah anak panti, bersemangat.

Mencermati kondisi sebagian panti asuhan yang memprihatinkan di  banyak daerah, Syafii mengatakan, salah satu yang bisa ditawarkan adalah meminta perusahaan- perusahaan untuk menyisihkan dana corporate social responsibility (CSR) guna membantu anak-anak panti asuhan. "Selama ini panti asuhan luput dari perhatian perusahaan. Padahal, melalui dana CSR, perusahaan bisa membantu, misalnya dengan memberikan pelatihan dan keterampilan servis sepeda motor. Mereka juga diberi kesempatan magang atau modal pinjaman lunak," paparnya.

"Banyak jenis keterampilan dan pelatihan yang bisa diberikan  kepada anak-anak panti. Misalnya, beasiswa untuk anak panti yang berprestasi," tambahnya.

Belajar bahasa Arab

Syafii lahir dengan nama Nio Gwan Chung. Ia lahir dan dibesarkan  di Sukabumi, Jawa Barat. Ayahnya, Nio Sem Nyau, seorang Haksu (Biksu Buddha Tridharma). Tahun 1984, setelah melakukan perenungan dan kajian dari berbagai disiplin ilmu, Nio Gwan Chung berketetapan hati memeluk agama Islam. Namanya pun berganti menjadi Muhammad Syafii Antonio. KH Abdullah bin Nuh al-Ghazali yang membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat.

Menjadi Muslim, ia belajar bahasa Arab di Pesantren an-Nidzom,  Sukabumi. Lulus SMA, Syafii melanjutkan ke ITB dan IKIP, tetapi tak menyelesaikannya. Ia justru memperdalam Islam dengan kuliah di IAIN  Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Jakarta). Ini pun tak berlangsung lama, ia lalu belajar di University of Jourdan di Jordania.

S-1 diraihnya pada 1990, Syafii lalu mengambil program master (S- 2) tentang ekonomi Islam di International Islamic University di Malaysia. Gelar doktor bidang Banking Micro Finance diraihnya di University of Melbourne pada 2004.

"Kita mengalami keterpurukan duniawi dan kerugian ukhrawi, karena selama ini menerapkan Islam secara parsial. Selama Islam hanya  diwujudkan alam bentuk ritualisme ibadah, diingat pada saat kelahiran bayi, ijab kabul pernikahan, serta penguburan mayat; sementara itu dimarginalkan dari dunia perbankan, asuransi, pasar modal, pembiayaan proyek dan transaksi ekspor-impor, maka umat Islam telah mengubur Islam dengan tangannya sendiri," katanya.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 7 Agustus: Kasus Suspek Covid-19 Tembus 80.200 Orang

UPDATE 7 Agustus: Kasus Suspek Covid-19 Tembus 80.200 Orang

Nasional
5 Upaya Pemerintah Kembalikan Pertumbuhan Perekonomian Nasional

5 Upaya Pemerintah Kembalikan Pertumbuhan Perekonomian Nasional

Nasional
Pascaledakan di Lebanon, Polisi Awasi Gudang Penyimpanan Amonium Nitrat

Pascaledakan di Lebanon, Polisi Awasi Gudang Penyimpanan Amonium Nitrat

Nasional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 7 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 7 Agustus 2020

Regional
UPDATE 7 Agustus: Total 1.663.315 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

UPDATE 7 Agustus: Total 1.663.315 Spesimen Diperiksa Terkait Covid-19

Nasional
Polisi Temukan Fakta Berbeda dengan Pengakuan Pembunuh Perempuan di Margonda Residence

Polisi Temukan Fakta Berbeda dengan Pengakuan Pembunuh Perempuan di Margonda Residence

Megapolitan
Jelang Pilkada Tasikmalaya, Puluhan Ribu Pemilih Meninggal Masih Terdaftar di DPT

Jelang Pilkada Tasikmalaya, Puluhan Ribu Pemilih Meninggal Masih Terdaftar di DPT

Regional
3 Anggota Dewan Sembuh dari Covid-19, Ketua DPRD: Berkat Kedisiplinan

3 Anggota Dewan Sembuh dari Covid-19, Ketua DPRD: Berkat Kedisiplinan

Regional
BLT Rp 600.000 Hanya untuk Karyawan Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan, Ini Alasannya

BLT Rp 600.000 Hanya untuk Karyawan Terdaftar BPJS Ketenagakerjaan, Ini Alasannya

Nasional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 7 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 7 Agustus 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 7 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 7 Agustus 2020

Regional
Gempa Magnitudo 5,5 di Buru Selatan, Warga Lari Berhamburan Keluar Rumah

Gempa Magnitudo 5,5 di Buru Selatan, Warga Lari Berhamburan Keluar Rumah

Regional
Update Kasus Fetish Kain Jarik, Pelaku Ditangkap di Kapuas dan Status Mahasiswa Dicopot

Update Kasus Fetish Kain Jarik, Pelaku Ditangkap di Kapuas dan Status Mahasiswa Dicopot

Regional
Indriana Kebal Diolok-olok Temannya karena Tinggal di Kandang Ayam, Janji Belikan Ibu Rumah

Indriana Kebal Diolok-olok Temannya karena Tinggal di Kandang Ayam, Janji Belikan Ibu Rumah

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 7 Agustus 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 7 Agustus 2020

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X